Minggu ini judul berita yg beken adalah ‘Reshuffle Kabinet SBY part 2’ (hihi kok kayak pilem Kill Bill aja ya pake part 2 segalah..) karena rameee bener.. Berhubung masih hangat, bole ya kasi komen sedikit. Ada 4 Menteri (Menteri Negara BUMN, Mensesneg, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal) dan 1 pejabat setingkat Menteri alias Jaksa Agung ‘diberhentikan’. Sedangkan 2 Menteri lainnya dirotasi (Meteri Komunikasi dan Informatika menjadi Menteri Negara BUMN, dan Menteri Perhubungan menjadi Mensesneg).
Kalo menurut ku, dengan Reshuffle yg kedua ini kok kita masih belum bisa optimis dengan ‘Beliau-beliau’ yg terpilih yaa.. Bukan berarti saya setuju dengan susunan kabinet yg lama juga.. Dengan Menteri yg baru ini apa iya bisa menghasilkan perubahan besar yg baik dalam 2 tahun ini? Apa dengan ganti Menteri untuk kedua kalinya kabinet dapat menjadi lebih baik?? Apa yang dijadikan parameter kinerja Menteri A lebih baik daripada Menteri B? Apa yg diharapkan oleh Presiden kita tercinta? Kok tidak ada penjelasan? (Walo memang ganti Menteri memang hak Prerogatif Presiden tapi rasanya kita juga perlu tau alasan logisnya). Jangan2 ganti Menteri berarti ganti program kerja, dan kalo program itu tidak berhasil ya dianggap wajar2 aja karena cuma ada waktu 2 tahun. Susahnya kebanyakan Menteri2 ini sepertinya dipilih hanya untuk mengakomodir kepentingan politik, sehingga kompetensi sebagai Menteri tidak terlalu diperhatikan (apa karena memang kita kekurangan orang2 yg layak jadi Menteri??).
Memang Menteri yg ‘bermasalah’ seperti Menteri Perhubungan --karena banyaknya kecelakaan transportasi terjadi-- diganti (walo Pak Menterinya sendiri tidak diberhentikan), tapi bagaimana Menteri2 lain di Kabinet Indonesia Bersatu --yg tidak diganti-- menjawab persoalan harga minyak goreng yg melambung tinggi (karena daku ibu2 maka sangat concern akan masalah ini..), krisis gas Elpiji karena kilang Balongan dan kilang di Kalimantan ditutup untuk maintenans, belom lagi persoalan beras yg tak kunjung selesai, masalah kesehatan dari mulai balita kurang gizi sampe flu burung, tingkat pengangguran tinggi serta angka kemiskinan yg tidak kunjung turun, gaji dokter PTT yg gak naik-naik --hehehe ini mah komplain diri :p--…
Hmm apakah saya terlalu pesimis??
Ada Menteri lama yg terlihat ‘tidak terima’ dengan pemberhentian dirinya, merasa alasan yg diberikan Presiden untuk memberhentikan dirinya tidak tepat. Ada Menteri yg baru ketika ditanya program kerja apa yg akan dia prioritaskan untuk dilaksanakan di Departemen yg dia pimpin nanti, terlihat masih bengong takjub (seperti habis menang lotre ajah pak..) dan hanya menjawab diplomatis..:o
Kalo menurut ku, dengan Reshuffle yg kedua ini kok kita masih belum bisa optimis dengan ‘Beliau-beliau’ yg terpilih yaa.. Bukan berarti saya setuju dengan susunan kabinet yg lama juga.. Dengan Menteri yg baru ini apa iya bisa menghasilkan perubahan besar yg baik dalam 2 tahun ini? Apa dengan ganti Menteri untuk kedua kalinya kabinet dapat menjadi lebih baik?? Apa yang dijadikan parameter kinerja Menteri A lebih baik daripada Menteri B? Apa yg diharapkan oleh Presiden kita tercinta? Kok tidak ada penjelasan? (Walo memang ganti Menteri memang hak Prerogatif Presiden tapi rasanya kita juga perlu tau alasan logisnya). Jangan2 ganti Menteri berarti ganti program kerja, dan kalo program itu tidak berhasil ya dianggap wajar2 aja karena cuma ada waktu 2 tahun. Susahnya kebanyakan Menteri2 ini sepertinya dipilih hanya untuk mengakomodir kepentingan politik, sehingga kompetensi sebagai Menteri tidak terlalu diperhatikan (apa karena memang kita kekurangan orang2 yg layak jadi Menteri??).
Memang Menteri yg ‘bermasalah’ seperti Menteri Perhubungan --karena banyaknya kecelakaan transportasi terjadi-- diganti (walo Pak Menterinya sendiri tidak diberhentikan), tapi bagaimana Menteri2 lain di Kabinet Indonesia Bersatu --yg tidak diganti-- menjawab persoalan harga minyak goreng yg melambung tinggi (karena daku ibu2 maka sangat concern akan masalah ini..), krisis gas Elpiji karena kilang Balongan dan kilang di Kalimantan ditutup untuk maintenans, belom lagi persoalan beras yg tak kunjung selesai, masalah kesehatan dari mulai balita kurang gizi sampe flu burung, tingkat pengangguran tinggi serta angka kemiskinan yg tidak kunjung turun, gaji dokter PTT yg gak naik-naik --hehehe ini mah komplain diri :p--…
Hmm apakah saya terlalu pesimis??
Ada Menteri lama yg terlihat ‘tidak terima’ dengan pemberhentian dirinya, merasa alasan yg diberikan Presiden untuk memberhentikan dirinya tidak tepat. Ada Menteri yg baru ketika ditanya program kerja apa yg akan dia prioritaskan untuk dilaksanakan di Departemen yg dia pimpin nanti, terlihat masih bengong takjub (seperti habis menang lotre ajah pak..) dan hanya menjawab diplomatis..:o






No comments:
Post a Comment